Penulis : Grace Kolin
Seiring berkembangnya waktu, keberadaan fesyen tidak lagi hanya sekadar “kebutuhan sandang”, namun juga telah merambah ke ranah tren dan gaya hidup. Ibarat bunglon, tren fesyen dari masa ke masa juga senantiasa mengalami perubahan. Beberapa orang memandang bahwa dirinya perlu mengikuti tren fesyen, sehingga ketika tren fesyen yang baru muncul, akan timbul perasaan seperti ada yang kurang ketika mereka tidak memperbaharui koleksi busananya.
Bagi sebagian besar industri fesyen, keluarnya tren fesyen baru biasanya diikuti dengan produksi busana baru secara massal dan masif. Dilansir dari Sustainable Fashion Forum, setiap tahunnya fast fashion mengeluarkan 52 musim mikro/tren. Dari data ini, bisa dibayangkan bagaimana nasib dari busana tren fesyen sebelumnya? Jika tidak menumpuk di lemari, kemungkinan besar busana fesyen dari tren sebelumnya ini akan berakhir di TPA.
Menurut Unenvironment.org, industri fesyen membuang 92 juta ton limbah padat ke TPA setiap tahunnya. Sehingga tidak mengherankan jika fesyen adalah industri paling berpolusi kedua di dunia, setelah industri perminyakan menurut UN Conference of Trade and Development (UNCTD) pada tahun 2019. Tidak hanya limbah padat, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa industri fesyen juga bertanggung jawab atas 10% emisi karbon global tahunan, melebihi semua emisi penerbangan nasional.
Ketika laju fast fashion dan kebutuhan untuk senantiasa tampil paripurna tidak dapat dicegah, apa yang dapat dilakukan agar fesyen yang dikenakan tidak melukai bumi?. Jawabannya adalah dengan menerapkan fesyen berkelanjutan, atau sustainable fashion. Menurut popbela.com, sustainable fashion adalah aksi tanggung jawab memilih pakaian untuk mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial dan ekonomi pada keseluruhan proses daur hidup produk.
Tidak hanya produsen pakaian, para konsumen juga dapat turut menerapkan fesyen berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan memperpanjang umur pakaian second hand lewat thrifting. Thrifting adalah aktivitas membeli atau mencari barang-barang bekas dengan tujuan untuk dipakai kembali. Salah satu marketplace yang menjembatani konsumen fesyen dengan aktivitas thrifting adalah Tinkerlust. Marketplace ini didirikan oleh dua sahabat bernama Aliya Amitra dan Samira Shihab sejak 2015.
Tidak hanya menjadi tempat untuk berbelanja barang fesyen second hand, Tinkerlust juga menjadi wadah bagi para perempuan yang ingin menjual barang-barang fesyen mereka. “Salah satu visi kita adalah untuk mengedukasi para pembeli kami, mengedukasi masyarakat luas tentang apa yang mereka lakukan dan membuatnya sangat mudah untuk mereka hidup berkelanjutan dan merubah kebiasaannya,” ujar Samira Shihab CEO Tinkerlust.
Visi Tinkerlust dalam menjalankan fesyen yang berkelanjutan menuai respon yang positif dari masyarakat urban seperti Fransisca Krishna. Agar barang fesyennya tidak terlalu menumpuk di lemari, Fransisca biasanya menyumbangkan barang fesyennya kepada orang lain ataupun menitipkannya di Tinkerlust. “Aku lumayan terbantu gitu, maksudnya Tinkerlust itu benaran mempermudah aku untuk punya tempat yang gak nyempitin lemari aku lagi, jadi kayak aku ngerasa kayak, oke sejak ada Tinkerlust, I feel safe. Jadi gak perlu lagi pusing mikirin aku taruh dimana barang-barang aku,” kata Fransisca.
Keberadaan marketplace seperti Tinkerlust dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah fesyen sekaligus memperpanjang usia dari pakaian itu sendiri. Menurut Fashion Revolution, memperpanjang usia pakaian hingga 9 bulan dapat mengurangi jejak karbon, limbah dan air sekitar 20-30%. Jadi, mencintai bumi sesederhana bijak dalam berfesyen. Baik dalam membeli barang fesyen maupun dalam bertanggung jawab terhadap nasib barang fesyen telah digunakan.

