Penulis : Grace Kolin
Dalam masyarakat, masih ada sebagian orang yang beranggapan bahwa anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Untuk mencapai standar ‘anak yang sehat’ tersebut, beberapa orangtua berlomba-lomba untuk membuat anaknya gemar makan. Selain tampak sehat, anak yang gemuk dengan pipi yang tembam juga terlihat lebih lucu dan menggemaskan.
Meski begitu, orangtua juga harus waspada. Dibalik perawakan anak yang gemuk, ada bahaya obesitas yang mengintai. Obesitas adalah kondisi lemak yang menumpuk di dalam tubuh yang sangat banyak akibat kalori yang masuk lebih banyak dibandingkan yang dibakar. Menurut dr. Siska Mardani S. MSc., Sp. A dalam program Bincang Sehati DAAI TV, seorang anak sangat mungkin mengalami obesitas.
“Penyebabnya sangat banyak juga. Ada yang disebabkan karena yang non medis. Non medis itu artinya perilaku, gaya hidup, dari segi lifestyle. Kemudian memang asupan hariannya lebih banyak dibandingkan dengan aktivitas fisiknya, itu secara non medis bisa ya bisa sangat mungkin sebagai salah satu faktor risiko yang bisa menyebabkan obesitas,” kata Siska.
Sementara secara medis, Siska merujuk pada bukti penelitian yang menyatakan bahwa faktor genetik menjadi penyebab obesitas pada anak secara medis. “Jadi secara genetik kalau salah satu dari orang tuanya obesitas, itu akan meningkatkan 5 kali lipat risiko si anaknya menjadi juga obesitas. Tapi kalau kedua orangtuanya itu punya obesitas, itu akan meningkatkan risiko obesitas pada anaknya sebesar 12 kali lipat. Jadi untuk menciptakan anak sehat ini tadi, itu memang harus dimulainya juga bukan si anak ini, tapi dari kita,” ujar Siska.
Obesitas dapat menimbulkan beberapa dampak pada anak, seperti munculnya kehitaman pada area lipatan kulit yang sering disebut dengan akantosis nigrikans. Dampak lainnya dapat berupa penumpukan lemak di area tubuh tertentu dan gerakan motorik menjadi lebih lambat dan terbatas. Pada level yang serius, obesitas pada anak dapat menimbulkan hipertensi, gangguan hormonal, ginjal, dan jantung, serta berisiko menimbulkan kerusakan pada organ lain.
Menurut Siska, efek obesitas yang harus lebih diwaspadai adalah kondisi psikis si anak. Anak dengan obesitas dapat mengalami depresi karena ia merasa berbeda dari teman-temannya. Meski tidak terlihat, tapi si anak bisa saja telah mengalami gejala depresi awal.
Ada beberapa cara dalam menangani obesitas pada anak, tergantung pada penyebabnya. Jika penyebab obesitas pada anak adalah lifestyle, maka anak harus menjalani perubahan lifestyle dari segi perilaku, jam makan hingga waktu mengonsumsi camilan. Jika sudah berhasil diubah, maka biasanya anak tidak perlu harus sampai ke dokter.
“Ada yang dia itu obesitas tapi sepertinya sehat, dan ada yang sudah mulai terganggu fungsi organnya. Sudah mulai hipertensi, kemudian sudah ada fatty liver, sudah ada kolesterol itu harus ketemu dokter untuk dilacak lebih dalam. Dia ya terapinya tidak hanya lifestyle, tetapi juga terapi sesuai dengan kondisi yang menyertainya saat itu,” kata Siska.
Setelah diterapi, kondisi anak juga perlu dievaluasi. Harapannya, ada target penurunan berat badan kurang lebih ½ kilogram perbulan. Penurunan berat badan juga tidak boleh terlalu banyak, karena anak masih tetap butuh nutrisi untuk bertumbuh dan berkembang. “Jadi tidak benar-benar sampai berat badan ideal, tapi 20% di atas berat badan ideal. Karena 20% ini yang kita harapkan tetap bisa menyokong pertumbuhan liniernya,” pungkas Siska.

