Penulis : Grace Kolin
Krisis identitas fase yang dapat terjadi pada siapa pun, pada usia berapa pun, dan pada tahap di mana pun dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang mengalami krisis identitas akan mudah mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan identitas dirinya, seperti kepercayaan, nilai hidup, pengalaman, tujuan, ataupun perasaannya.
Seseorang tidak perlu panik ketika mengalami fase ini, karena fase ini adalah fase normal yang harus dilewati. Namun akan menjadi perhatian serius jika fase ini tidak berhasil dilewati. Menurut psikolog Alexandra Gabriella, M.Psi. dalam program Bincang Sehati DAAI TV, ada beberapa hal yang akan dialami seseorang jika ia gagal membentuk identitasnya.
“Kalau mereka gagal menentukan identitas mereka, mereka bisa mengalami gangguan-gangguan seperti borderline personality, dependent personality dan sebagainya, dan itupun menjadi sebuah lingkaran setan ya. Dan kalau mereka sudah di tahap punya gangguan kepribadian, jelas mereka akan lebih rentan mengalami identity crisis yang lebih berat lagi. Karena mereka gak punya identitas atau value yang lebih jejeg untuk menjadi tolak ukur mereka terhadap perubahan, terhadap bagaimana mereka menyesuaikan diri,” ujar Alexandra.
Kapan seseorang yang mengalami krisis identitas harus mencari pertolongan atau bantuan dari tenaga profesional? Alexandra menjawab, ketika di titik semua emosi dan pemikiran sudah memengaruhi fungsi produktivitas.
“Jadi males kuliah, nilainya jadi jelek, males ketemu teman-teman, dan sepertinya kayaknya udah mulai gak semangat melakukan apapun. Kuncinya adalah produktivitas itu. Kalau memang semua hal yang dirasa tekanan tadi sudah menimbulkan sebuah perubahan yang bikin kita jadi semangat, tidak punya energi, dan ada perubahan pola makan, perubahan pola hidup, nah ada baiknya memang mencari pertolongan profesional,” imbuh Alexandra.
Menurut laman alodokter.com, krisis identitas memang dapat terjadi pada semua orang. Namun fase ini lebih sering terjadi pada remaja yang masih mencari jati diri. Lalu, apa yang bisa dilakukan orangtua dalam membantu anaknya yang sedang remaja, agar mereka tidak mengatasi krisis identitas? Berikut caranya:
- Bantu anak untuk menentukan hal yang ia sukai
Ketika seorang anak menunjukkan apa yang dia suka, ada baiknya orangtua mencoba untuk memberinya dukungan dan semangat. Selain itu, berikan jalan sambil berdiskusi dengan anak tentang kesulitan, risiko, dan pencapaian yang bisa mereka dapatkan dari semua hal itu.
- Berikan pertanyaan dibanding tuntutan
Ketika seseorang terus-menerus dituntut, diberi arahan dan larangan, ia tidak akan pernah tahu dimana letak kesalahannya. Karena mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan. “Ketika anak melakukan kesalahan dan mereka masih bisa berdiskusi dengan orangtuanya, niscaya kemampuan daya juangnya akan lebih kuat. Ketika menghadapi kegagalan, mereka bisa bangkit lagi,” kata Alexandra.
- Biasakan untuk mengambil keputusan bersama
Dengan sama-sama berdiskusi, orangtua dapat memvalidasi pikiran, pendapat dan emosi anak. Sehingga anak akan tahu bahwa dia berharga, diterima, dan memiliki nilai yang patut untuk dihargai. Tak hanya itu, dari aktivitas ini, anak juga dapat memiliki sense of value yang kuat.

