TPST UGM (Foto: Instagram @ugm.yogyakarta)
Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Sinduadi meresmikan TPS Terintegrasi Sinduadi Gumregah Gayeng Regeng yang punya teknologi penghilang bau.
TPS terintegrasi ini diresmikan di Kelurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Yogyakarta, pada Senin (14/8).
Mengutip dari tautan ugm.ac.id, TPS pengelolaan sampah ini menggunakan teknologi penghilang bau dan microbuble untuk mempercepat proses pengolahan sampah menjadi kompos dan pupuk cair yang lebih berkualitas.
Dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM Wiratmi mengatakan, munculnya bau menyengat dari sampah disebabkan banyaknya kandungan air dalam sampah yang sudah terkontaminasi bakteri.
“Kita buat teknologi untuk memeras cairan dalam sampah yang biasa kandungan airnya bisa mencapai 70%,” ujar Wiratmi dikutip dalam keterangannya, Selasa (15/8).

Melalui teknologi yang dikembangkan pada TPS ini, cairan sampah yang masuk ke mesin bioreaktor untuk diubah menjadi pupuk cair diolah dengan kondisi tertutup, sehingga mampu mengurangi bau.
Keuntungan lainnya volume padat bisa lebih kecil, sehingga tidak perlu ruangan lebih besar untuk mengelola sampah jadi kompos atau maggot.
“Kita juga memasukkan teknologi aerasi dengan memasukkan oksigen, sehingga bisa menghasilkan pupuk cair secara cepat dan baik, serta tidak meninggalkan bau,” tambah Wiratmi.
Di sisi lain, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan bahwa TPS terintegrasi mandiri ini merupakan hasil kerja sama dengan kampus UGM, sebagai percontohan dalam pengelolaan sampah mandiri di kelurahan Sleman.
“Kami ingin sampah bisa dikelola dan diselesaikan di tingkat kelurahan. TPS ini menjadi pilot project di kelurahan Sleman,” kata Kustini.
Kustini juga mengapresiasi ide dan hasil inovasi dari kerja sama antara pemerintah desa dan UGM, sehingga menghasilkan teknologi dalam pengelolaan sampah secara mandiri.

UGM sendiri memberikan perhatian khusus pada persoalan sampah yang menjadi isu beberapa minggu terakhir karena sempat ditutupnya TPA Piyungan.
Ditutupnya TPA Piyungan, dinilai bisa menjadi momentum bagi Pemda dan pemerintah kelurahan untuk bergerak bersama dengan akademisi dalam menyelesaikan masalah pengelolaan sampah di tingkat desa secara mandiri.

Senen selaku Lurah Sinduadi bercerita, rencana pembangunan TPS terintegrasi mandiri di Kelurahan Sinduadi sudah muncul sejak 2019, tetapi sempat terkendala dari sisi pendanaan.
Sampai akhirnya TPST ini baru bisa dibangun pada tahun 2023 melalui kerja sama dengan akademisi UGM.
Meski kapasitas pengelolaan sampah ini hanya seperempat dari target 18 ton sampah yang bisa dikelola setiap hari, tetapi dirinya bersyukur TPST ini mulai bisa beroperasi.
“Kami merencanakan 18 ton per hari akan bisa tercapai 2-4 bulan mendatang dan kita harapkan Sinduadi bisa zero sampah,” tutup Senen.

