Bulan tujuh Imlek yang identik dengan bulan hantu.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Bagi sebagian orang Tionghoa, bulan tujuh Imlek diyakini sebagai “Bulan Hantu” dimana roh-roh yang telah meninggal keluar untuk menemui keluarga dan menerima persembahan. Salah satu tradisi yang mewarnai bulan tujuh Imlek adalah Sembahyang Bulan Tujuh (Chit Gwe Pua).

Dalam Sembahyang Bulan Tujuh, biasanya dilakukan pembakaran kertas sembahyang secara besar-besaran dan mempersembahkan sajian yang berasal dari makhluk hidup. Kedua hal ini dilakukan agar arwah para leluhur dapat terbebas dari penderitaan.

Di balik bulan tujuh Imlek selalu dianggap sebagai bulan yang menakutkan, sebenarnya, dalam Buddhisme, bulan ini adalah bulan bakti yang penuh dengan berkah dan sukacita. Mengapa? Dikatakan bulan sukacita, karena di bulan ini ada banyak murid sang Buddha yang memperoleh pencerahan setelah tiga bulan masa vassa.

Dalam masa tersebut  mereka berkumpul untuk melatih diri, bermeditasi, mendengar ceramah sang Buddha. Mereka juga tidak diperkenankan melakukan perjalanan jauh jika tidak ada hal yang mendesak. Ini dikarenakan pada musim penghujan, jalan menjadi becek sehingga sulit dan berbahaya untuk dilewati. Selain itu larangan ini juga berlaku agar binatang-binatang kecil dan tunas-tunas tanaman yang baru tumbuh tidak terinjak.

Mengapa dikatakan bulan bakti? karena pada masa vassa tersebut, salah satu murid sang Buddha yaitu Mahamoggallana bermeditasi dan melihat ibunya terjatuh di alam sengsara. Untuk menyelamatkan ibunya, Mahamoggallana mengikuti pesan sang Buddha untuk menciptakan berkah melalui persembahan kepada sang Buddha dan setiap anggota Sangha yang ada di sana, kemudian melimpahkan jasa kebajikan tersebut untuk ibunya.

Dalam memperingati bulan tujuh Imlek, Master Cheng Yen senantiasa menyosialisasikan agar masyarakat menyebarkan cinta kasih kepada semua mahkluk dengan bervegetaris. Tidak hanya itu, Master juga mengimbau orang-orang agar tidak lagi membakar kertas sembahyang. Daripada dibakar, lebih baik uang yang digunakan membeli kertas sembahyang dialihkan untuk menolong mereka yang membutuhkan.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber