Sumber : Independensi

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Bulan puasa identik dengan takjil. Saat waktu berbuka puasa hampir tiba, orang-orang mempersiapkan makanan berbuka puasa, termasuk takjil. Terkadang, kegiatan membuat atau mencari takjil juga menjadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan untuk mengisi waktu sebelum berbuka.

Selama ini, banyak orang yang keliru memaknai arti takjil sebagai menu berbuka puasa. Jika ditelusuri lebih jauh, makna takjil yang sebenarnya bukan menu buka puasa. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan yang artinya adalah “menyegerakan” atau “cepat-cepat”. Maksud kata menyegerakan ini adalah untuk segera membatalkan puasa yang sudah dilakukan ketika waktunya tiba.

Di Indonesia, kata ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan mengalami penyederhanaan ucapan, yaitu mengambil kata ta’jilan yang kemudian pengucapannya disederhanakan lagi menjadi takjil. Dan kini, mayoritas masyarakat memahami arti takjil sebagai makanan yang ringan untuk disantap saat buka puasa. Karena semakin populer, pemaknaan baru itu akhirnya diserap dalam bahasa Indonesia dan terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi ‘takjil’.

“Hanya di Indonesia, takjil itu yang tadinya artinya menyegerakan sudah berubah artinya artinya untuk lemper, bakwan, tahu isi, artinya makanan-makanan untuk buka puasa. Ya terserah orang Indonesia, tidak apa. Yang penting orang Indonesia sepakat. Bahasa itu kan kesepakatan. Jadi ya, bahasanya dari bahasa Arab, takjil, tapi dipergunakan dengan maksud orang Indonesia.”  ujar Ustad Ali Nur Medan, Lc dalam cuplikan video dakwah yang diunggah oleh akun Instagram @karinamaharani_08 pada tanggal 3 April 2022.

Di Indonesia, menu makanan yang populer sebagai takjil adalah kolak. Hal itu tidak terlepas dari sejarahnya yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pada waktu itu, ulama-ulama yang tergabung dalam Wali Sanga menggunakan kolak sebagai media dakwah, disamping menyebarkan agama Islam melaui dakwah lisan dan tulisan. Selain sebagai media dakwah, panganan itu kemudian menjadi hidangan takjil yang paling populer. Dan seiring berkembangnya zaman, hidangan yang identik dengan takjil semakin meluas, dari yang awalnya hanya kolak berkembang menjadi aneka makanan manis seperti cendol atau dawet.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber