Sumber : Independensi

Sumber Gambar : Kompas.com

Penulis : Grace Kolin

Indonesia memiliki banyak sosok ilmuwan yang membanggakan, baik di kancah nasional maupun di kancah internasional. Pada tahun 2021, Tri Mumpuni Wiyatno atau yang dikenal dengan Bu Puni menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar 22 Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh di Dunia. Bu Puni dikenal sebagai sosok yang mengalirkan listrik di 65 desa di Indonesia dengan sistem mikrohidro. Sistem mikrohidro adalah teknologi yang memanfaatkan debit air untuk diubah menjadi energi listrik. Listrik yang ia hasilkan kemudian dijual ke PLN dan uangnya disalurkan untuk masyarakat desa.

“Kita hanya membelokkan air, kita tidak merubah lahan, tidak menyingkirkan orang, tidak menenggelamkan sesuatu, atau ekosistem atau habitat manusia maupun hewan gitu. Pembangkit listrik tenaga air skala kecil itu environmentally friendly,” ujar Bu Puni dalam wawancaranya dengan VOA.

Berkat kerja luar biasa tersebut, sosok yang sering dijuluki sebagai “Perempuan Listrik” ini berhasil menuai pujian dari Presiden AS Barack Obama pada tahun 2010 lalu. Ia juga mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay pada 2011 dan Nobel atau award Ashden Awards 2012. Asdhen adalah lembaga swadaya masyarakat Inggris yang terlibat dalam energi ramah lingkungan.

Di balik pencapaiannya yang gemilang, Bu Puni adalah sosok yang bersahaja. Bersama sang suami, Bu Puni membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai sumber energi listrik bagi wilayah yang belum terjangkau oleh PT PLN dengan memanfaatkan potensi energi air yang terdapat dilokasi setempat untuk menggerakkan turbin.

Ide ini bermula ketika Bu Puni bersama dengan suami yang pergi berkeliling ke desa-desa dan melihat sumber air yang melimpah namun belum memiliki kabel distribusi listrik di lokasi tersebut. Baginya, kondisi ini tidak boleh diabaikan. Melalui lembaga Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang diasuhnya, Bu Puni pun membangun PLTMH di sejumlah desa yang biasanya terpencil.

Salah satu desa yang berhasil dibuat menjadi terang benderang adalah Desa Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dulunya, selama puluhan tahun warga desa ini hidup tanpa listrik. Bahkan dalam memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari pun, mereka membutuhkan waktu 7 jam untuk mengangkut air di bawah bukit ke atas. Dengan adanya PLTMH, masyarakat Desa Kamanggih tidak perlu lagi menghabiskan 7 jam lamanya untuk mengangkut air. Para ibu di desa ini pun dapat memanfaatkan waktunya untuk menambah pendapatan keluarga lewat menenun kain.

Tidak berhenti sampai pada pembangunan PLTMH, Bu Puni juga mengajak masyarakat untuk membangun komunitas. Tujuannya agar masyarakat dapat menjaga dan memelihara pembangkit listrik tersebut, tidak hanya dari turbinnya saja namun dari keajekan aliran airnya sepanjang tahun.

“Membahagiakan orang lain itu, membahagiakan diri kita sendiri,” kata Bu Puni.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber