Penulis : Grace Kolin

Di tengah pandemi, seorang kontraktor bernama Edi Sulistyo tetap memantapkan niatnya untuk berbagi kepada sesama lewat rumah makan yang ia dirikan bernama Rumah Makan Gratis 99. Rumah makan ini merupakan impian Edi sejak lama. Impian ini didorong oleh sulitnya kehidupan yang pernah dirasakan Edi ketika ia mengawali karir sebagai kuli bangunan di Jakarta. Semenjak saat itu, ia pun membulatkan tekad untuk membantu orang-orang yang membutuhkan makanan jika ia sudah berhasil.

Ketika keinginannya menjadi sosok yang berhasil terwujud, Edi pun tidak melupakan tekadnya untuk menolong orang. Pada tahun 2021, ia mendirikan rumah makan gratis guna membantu masyarakat prasejahtera.  Rumah makan gratis ini terletak di Ciputat, Tangerang serta terbuka untuk semua orang yang ingin menikmati hidangan makanan pada siang dan sore hari, mulai dari Senin hingga Sabtu.

Layaknya sebuah restoran, rumah makan ini dilengkapi dengan fasilitas berupa televisi dan pendingin ruangan.  “Dari bikin restoran ini, saya mau awalnya itu berkah dulu nih. Berbagi buat sesama, toh Alhamdulillah udah cukup kan,” kata Edi.

Lokasi yang strategis dan berada di pinggir jalan raya, membuat Rumah Makan Gratis 99 selalu ramai disambangi oleh warga. Namun untuk menghindari kerumunan dan penularan virus corona, para pengunjung diwajibkan untuk makan secara bergantian di dalam rumah makan ini.

“Yang jelas pertama kali sebelum makan diwajibkan untuk mencuci tangan, karena yang makan tidak mereka saja kan. Untuk makan sendiri dari jam 11 sudah ready sampai habis, biasa setengah  2. Next jam 5 sampai abis. Paling cepat jam 7 udah habis, karena Masya Allah banyak banget yang ngantri,” ujar Edi.

Keberadaan rumah makan gratis ini turut meringankan beban masyarakat selama masa pandemi. “Alhamdulillah, dengan adanya rumah makan gratis ini sedikit membantu untuk meringankan. Karena kita semua kan tahu, dalam keadaan covid ini aktivitas terhalang ya,” kata Zaenudin, salah satu masyarakat yang makan di Rumah Makan Gratis 99. Selain membantu masyarakat, Edi juga membuka lapangan pekerjaan untuk warga sekitar. Ia membayar empat orang karyawan per bulan untuk memasak dan mengelola rumah makan gratisnya setiap hari.