Berkebun menjadi pilihan untuk merelaksasi pikiran sekaligus menjaga ekosistem disekitar. Bagi seorang desainer bernama Jessica Halim, berkebun juga bisa membantunya mengurangi sampah dapur dengan menanam bahan pangan di lahan terbatas miliknya. Jessica memilih lahan jemuran diatap rumahnya untuk dimaksimalkan menjadi lokasi berkebun, ia memulai kegiatan ini sejak awal pandemi pada tahun 2020.
Diawali dengan menanam semua bumbu dapur di lahan yang terbatas, hal itu juga ia lakukan karena keprihatinannya melihat banyak sampah kemasan bumbu dapur yang mencemari lingkungan. Jessica juga berpendapat bahwa dengan menanam atau berkebun dirinya dapat ikut mengurangi food waste, “bumbu dapur itu paling nyampah sebenarnya, karena dibungkus sama plastik semua. Jadi kalau kita menanam, nggak ada lagi food waste dan ditambah segar juga bumbu dapurnya,” ujarnya.
Jessica memilih untuk menanam tanaman organik karena menurutnya tanaman organic memiliki nutrisi yang lebih baik, dan tidak ada bahan kimia yang nantinya akan berbahaya bagi tubuh. Kebun organik yang ia tanam di lahan terbatas rumahnya, seakan menjadi ‘supermarket’ untuk Jessica dan keluarga. Hal ini karena dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan makanan mereka seperti sayuran, buah-buahan, bahkan bunga.
Jessica juga menerapkan kehidupan yang ramah lingkungan bagi anak-anaknya, seperti memulai untuk membuat kompos sisa makanan mereka yang menghasilkan pupuk cair dan padatannya bisa menjadi media tanam bagi kebun mereka. Selain itu, Jessica juga mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai yang ada di rumahnya.
Dengan mengedukasi pengurangan sampah dan memberikan solusi bagi barang yang dapat dipakai ulang melalui cara mengurangi, mengolah, dan memilah sampah terutama yang berasal dari rumah tangga dapat menyiapkan pengetahuan sekaligus mewarisi lingkungan yang bersih bagi generasi penerus. Jessica dan suami juga menyadari bahwa usaha yang mereka bangun dalam dunia desain grafis memiliki peluang untuk mengedukasi konsumen mereka mengenai lingkungan hidup.
“Saya baru sadar empat tahun terakhir bahwa pekerjaan saya itu juga jembatan sumbangan sampah karena kita bikin kemasan yang menarik supaya konsumen mau beli, pada akhirnya mereka bingung mau dibuang kemana,” katanya.
“Jadi, sebagai desainer kita punya social responsibility yang harus kita edukasi apa ke konsumen,” sambungnya.
Video Terkait
