Alat Deteksi Longsor Necam (Foto: Detak Banten)
Tiga orang siswa SMK Negeri Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, berhasil menciptakan alat pendeteksi bencana tanah longsor.
Ketiga siswa tersebut adalah Cahyana, Arya Saputra, dan Yosep Sopian. Siswa kelas XI jurusan Teknik Komputer Jaringan.
Mengutip dari berbagai sumber, alat pendeteksi longsor tersebut diberi nama Alarm Tanah Longsor (ATL) Necam. Alat ini berfungsi untuk memberikan peringatan dini, akan bahaya bencana longsor.
Lalu, bagaimana cara kerjanya? Nantinya, alat tersebut ditempatkan di daerah rawan longsor, seperti perbukitan yang dekat dengan permukiman warga atau di sekitar tebing.
Nantinya, sensor yang ada pada ATL akan mengirimkan beberapa data, seperti kelembapan tanah, curah hujan, hingga pergerakan tanah.

Menariknya, data-data ini bisa dipantau secara real-time melalui aplikasi di jaringan internet yang bisa diakses langsung, baik melalui ponsel genggam maupun laptop.
“Alat ini memiliki dua perangkat yang terdiri atas sensor unit yang akan disimpan di tempat terindikasi sering terjadi longsor dan unit yang kedua dan disimpan di tempat yang jauh dari tempat longsor,” ujar Cahyana dikutip dalam keterangannya, Jumat (1/12).
Ide pembuatan alat ini, berawal dari tugas praktik siswa yang diminta untuk membuat alat yang bermanfaat bagi masyarakat umum.
Akhirnya, ketiga siswa ini berinisiatif untuk menciptakan ATL. Pembuatan alarm tanda tanah longsor ini, menggunakan peralatan dari sekolah dengan memanfaatkan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

Saat ini, satu unit perangkat alarm tanda longsor hasil inovasi para siswa, telah dipasang di daerah rawan longsor di Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta.
Pihak sekolah pun terus berkoordinasi dengan pihak BPBD Purwakarta, untuk mengembangkan alat agar lebih bisa bermanfaat dan mengurangi potensi bahaya akibat bencana tanah longsor.

