Ilustrasi nasi goreng (Foto: Odua Images)
Menu makanan Indonesia kembali jadi sorotan kuliner dunia. Kali ini, nasi goreng menduduki peringkat ketiga sebagai hidangan tumis terbaik di Asia Tenggara.
Berdasarkan peringkat terbaru yang dirilis Juli 2023, nasi goreng berhasil menduduki peringkat ketiga setelah Pad Thai dan Phat Kaphrao dari Thailand.
Informasi tersebut, dibagikan langsung oleh TasteAtlas melalui unggahan di situs webnya yang bertajuk “10 Best Rated Southeast Asian Stir-fry Dishes”.
Berdasarkan informasi dari situs web TasteAtlas, meski dianggap sebagai hidangan nasional Indonesia, tetapi nasi goreng juga menjadi hidangan yang biasa disantap di Malaysia dan Singapura.
Tradisi menggoreng nasi di Indonesia diyakini berasal dari budaya Tionghoa, ketika perdagangan kedua negara mulai berkembang.
Masyarakat Indonesia mengadopsi tradisi Tiongkok berdasarkan keyakinan bahwa membuang-buang makanan adalah dosa. Tak lama kemudian, seperti banyak versi nasi goreng lainnya, nasi goreng Indonesia pun tercipta.
Nasi goreng Indonesia dianggap sebagai menu makanan praktis, sehingga biasanya disantap untuk sarapan pagi dan dibuat dengan sisa nasi sehari sebelumnya.
Nasi yang sudah dimasak biasanya digoreng dengan sedikit minyak, lalu dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, cabai, atau jahe.
“Nasi goreng Indonesia terkenal dengan penggunaan kecap manisnya yang melimpah, sehingga memiliki rasa yang lebih dalam dan pedas dibandingkan jenis nasi goreng lainnya,” ujar TasteAtlas dikutip dalam keterangannya, Senin (25/9).
Nasi goreng biasanya disajikan dengan telur yang dicampur dengan nasi, atau digoreng dan disajikan sebagai pendamping.
Khusus untuk hidangan dalam kategori ini, hingga 14 September 2023 lalu sudah tercatat 1.340 peringkat yang mana 1.025 di antaranya diakui oleh sistem sebagai suara yang sah.
Sebagai informasi, TasteAtlas merupakan situs panduan perjalanan dan kuliner yang didirikan oleh jurnalis dan pengusaha Korasia, Matija Babić.
Situs ini, kerap memetakan beragam jenis makanan dan minuman lokal dari seluruh dunia yang mengandalkan ulasan dari audiens TasteAtlas.
Peringkat makanan yang dipublikasikan oleh TasteAtlas, dikurasi dengan serangkaian mekanisme yang bisa mengenali pengguna nyata dan mengabaikan robot, bahkan sistem ini bisa memberikan nilai tambahan pada pengguna terverifikasi jika dinilai memberikan pengetahuan.
Meski demikian, pemeringkatan TasteAtlas tidak boleh dilihat sebagai kesimpulan final dan menjadi acuan utama.
“Pemeringkatan ini, bertujuan untuk mempromosikan makanan lokal yang unggul, menanamkan kebanggaan terhadap hidangan tradisional, dan membangkitkan rasa ingin tahu terhadap hidangan yang belum pernah dicoba,” tutup TasteAtlas.

