Gastrodia bambu disebut anggrek hantu karena berasal dari kelompok holomikotropik. (Foto/LIPI).
Pertengahan Agustus 2017 lalu, spesies baru anggrek dari Indonesia telah terbit pada jurnal ilmiah internasional Phytotaxa karya Destario Metusala dan Jatna Supriatna.
Spesies baru yang diberi nama ilmiah Gastrodia bambu ini disebut dengan Anggrek Hantu. Nama Gastrodia bambu sendiri berasal dari bahasa Indonesia, yaitu ‘bambu’ yang merupakan habitat anggrek hantu tumbuh.
Tidak seperti tumbuhan anggrek pada umumnya, bunga ini menyukai lingkungan gelap dan menyebarkan bau seperti ikan busuk.
Anggrek hantu juga tidak memiliki daun sehingga tidak memiliki klorofil dan berfotosintesis. Oleh karena itu, seluruh daur hidupnya menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.
Anggrek hantu umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Setelah kemunculannya di permukaan tanah, dalam waktu 1-2 minggu perbungaan, spesies ini akan layu, busuk, dan lenyap.
Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm.
Kombinasi warna anggrek hantu tidak mencolok, umumnya berwarna putih, kekuningan, hingga kecoklatan dengan bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga. Tidak heran jika spesies anggrek hantu memiliki kesan konotasi ‘angker’.
Sempat Menjadi Endemik Pulau Jawa
Berdasarkan catatan rekaman populasinya, spesies ini pertama kali ditemukan akhir 2016 di Yogyakarta, tepatnya di Gunung Merapi pada ketinggian 800 mdpl.
Pada tahun 2017 bunga ini kembali ditemukan di Gunung Gede Pangrango, Bodogol, Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, pada ketinggian 800 mdpl.
Dilansir Mongabay, Gastrodia bamboo sempat dianggap tumbuhan endemik Pulau Jawa karena hanya ditemukan di Jawa Barat dan Yogyakarta.
Namun, pada tahun 2018, seorang peneliti berkebangsaan Rusia, Leonid Averyanof telah mempublikasikan sebuah spesies baru anggrek hantu Gastrodia khangii berbunga kecoklatan dari hutan Provinsi Son-La, Vietnam.
Penelitian pun dilakukan untuk membandingkan kedua spesies Gastrodia tersebut. Hasil observasi mendalam yang dilakukan Destario Metusala menunjukkan bahwa anggrek hantu yang ditemukan di Pulau Jawa dan Vietnam merupakan satu takson yang sama.
Gastrodia bamboo pun tidak lagi dianggap tumbuhan endemik Pulau Jawa. Kesimpulan penelitian ini pun disetujui oleh Professor Leonid Averyanof. Hasil penelitian itu dipublikasikan di Jurnal Phytotaxa pada 2020.
Spesies Langka
Dilasir LIPI, Gastrodia bambu memerlukan kondisi ekologi yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, intensitas cahaya berlebih, dan juga perubahan pada media tumbuhnya.
Bambu merupakan habitat anggrek hantu tumbuh. Bunga ini menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza. (Foto/LIPI).
Pertumbuhan populasi anggrek sangat dipengaruhi jamur mikoriza. Banyak ancaman akan habitat anggrek hantu, seperti perubahan iklim, penebangan rumpun bambu untuk kayu gelondongan serta fenomena awan panas yang dilepaskan oleh Gunung Merapi.
Hingga saat ini, spesies Gastrodia bambu dan kebanyakan anggrek holomikotropik lainnya, masih belum dapat dibudidayakan maupun ditumbuhkan di luar habitat aslinya. Hal tersebut menjadi misteri sekaligus tantangan utama dalam upaya konservasinya.
Jumlah populasi anggrek hantu ini diperkirakan kurang dari seribu individu dengan tingkat kemunculan spesies yang diperkirakan kurang dari 5.000 kilometer persegi.
NR
Referensi
LIPI. (29 Agustus 2017). Mengenal Spesies Baru Anggrek Hantu dari Pulau Jawa. Diakses pada 23 November 2021 dari http://lipi.go.id/berita/Mengenal-Spesies-Baru-Anggrek-Hantu-dari-Pulau-Jawa/18925.
Mongabay. (April 2021). Mengapa Bunga Ini Disebut Anggrek Hantu?. Diakses pada 23 November 2021 dari https://www.google.com/amp/s/www.mongabay.co.id/2021/06/03/mengapa-bunga-ini-disebut-anggrek-hantu/amp/.
