Penulis : Grace Kolin
Masa perkembangan anak tidak terlepas dari mainan. Lewat mainan, anak-anak dapat merasakan banyak manfaat. Melansir dari theasianparent.com, dengan mainan anak dapat belajar menjadi lebih kreatif, menjadi banyak akal, tidak cepat bosan, hingga mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik.
Ketika bermain dengan mainan kesukaannya, terkadang anak juga berinteraksi dan menanamkan karakter pada mainannya. Salah satu contoh mainan yang sering dijadikan objek dalam kegiatan ini adalah boneka. Beberapa anak ada yang mengajak bonekanya mengobrol, memberikan nama dan karakter pada bonekanya sehingga interaksinya dengan bonekanya menjadi lebih hidup, seperti teman sungguhan.
Apakah fenomena ini adalah fenomena yang wajar? Menurut psikolog Ayoe Sutomo dalam program Kumpul Keluarga DAAI TV, interaksi anak pada mainannya ini merupakan kegiatan yang baik, sepanjang kegiatan ini masih berada dalam tahapan perkembangannya. Kegiatan ini justru dapat menstimulasi kemampuan anak dalam berbahasa, berbicara, hingga melatih konteks sosial pada anak.
Manfaat ini turut dirasakan oleh Shenna. Salah satu anak yang memiliki banyak koleksi boneka di rumahnya, mulai boneka puppet hingga boneka ventriloquist. Menurut Ibu Shenna, Irma, anaknya gemar berinteraksi dengan boneka, khususnya boneka puppet sejak ia masih bayi. Sementara untuk boneka ventriloquist, Shenna mulai menggemari jenis boneka ini sejak usia 4 tahun. “Nah itu saya gunakan sebagai storytelling dan bernyanyi. Jadi buat stimulasinya Shenna. Dan ternyata sampai usia dua tiga tahun itu dia malah suka memainkannya,” ujar Irma.
Menanggapi sharing pengalaman dari Irma dan anaknya, Ayoe menerangkan beberapa manfaat menggunakan mainan seperti boneka sebagai media untuk menstimulasi perkembangan anak. Seperti mengembangkan kemampuan bahasa dan bicara serta kemampuan untuk membaca setting situasi sosial. Orangtua juga dapat menanamkan nilai-nilai melalui media mainan kepada anak sekaligus membangun bonding atau kedekatan emosi dengan anaknya.
“Ketika bonding emosinya bagus, anak tahu di setting sosial dia harus bersikap seperti apa? Kemampuan berbahasanya juga terstimulasi dengan baik. Lalu output-nya apa? Anak menjadi jauh lebih percaya diri ketika dia harus berhadapan dengan satu setting sosial,” imbuh Ayoe.
Namun perlu diperhatikan pula interaksi anak dengan mainannya agar si anak tidak terus larut dengan mainannya. Menurut Ayoe, hubungan anak dengan mainannya akan menjadi tidak sehat ketika aktivitas ini dilakukan secara berlebihan.
“Segala sesuatu yang berlebihan kan itu kurang baik. Dan ketika misalnya aktivitas ngomong sama bonekanya itu mungkin sudah di usia di atas yang seharusnya, anak sudah mampu untuk inner talk sendiri. Jadi di usia-usia menuju SD, udah mulai kelas 5 SD, 6 SD tapi kemudian masih asik dengan boneka. Hanya mau bermain dengan boneka itu sendiri, kesulitan ketika dia berinteraksi dan bersosialisasi justru di dalam dunia nyata. Nah itu sebetulnya perlu untuk dilihat kenapa nih? ada apa nih? Kenapa kenyamanannya justru didapat dengan lingkungan bermain dengan objek saja,” kata Ayoe.

