Ilustrasi pemeriksaan kesehatan
Di balik padatnya aktivitas harian masyarakat, ada ancaman sunyi mengenai kondisi fisik yang kian rentan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes pada penduduk dewasa mencapai 29,2%.
PTM adalah penyakit yang tidak menular dan bukan disebabkan oleh penularan vektor, virus, dan bakteri, tetapi lebih banyak disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup.
Di luar itu, ada lebih dari 70% di antaranya tidak menyadari bahwa mereka sakit karena jarang atau tidak pernah mendeteksi kondisi tubuh sejak dini.
Hal inilah yang terasa familiar dalam keseharian dr. Yusuf Nugraha, pendiri Klinik Harapan Sehat di Cianjur.
dr. Yusuf mengaku, kliniknya pernah didatangi seorang pasien berusia 70 tahun dengan tubuh gemetar, memegang perut yang sakit, dan berkeringat dingin.
Setelah dilakukan asesmen lebih lanjut, pasien itu berkata, “Dok, saya cuma pengen tahu saja penyakit saya apa. Kalau tidak bisa ditangani tidak apa-apa, saya tidak punya uang.”
Menurut dr. Yusuf, pasien lansia tersebut mengaku tidak berani berobat karena kartu jaminan kesehatannya tidak aktif akibat tunggakan biaya yang tak sanggup ia bayar.
“Di masyarakat ternyata masih ada kendala, ada pasien yang mereka belum kerja atau mereka tidak punya BPJS. Pada suatu saat mereka pun kadang-kadang tidak punya uang, […] sehingga mereka juga masuk ke golongan-golongan yang rentan,” ujar dr. Yusuf kepada DAAI TV.

(Dokter Yusuf bersama pasien yang membayar pengobatan menggunakan barter makanan. Dok. Pribadi)
Meringankan Beban Lewat Pengobatan Gratis
Kendala biaya pengobatan di masyarakat kemudian mendorong dr. Yusuf bergerak melalui Klinik Harapan Sehat.
Berdiri sejak 2008, klinik ini hadir untuk mengisi celah dan meruntuhkan benteng biaya yang kerap menghalangi warga kurang mampu.
“Nah, inilah kendala di masyarakat yang ingin kami tutup celahnya. Kami ingin bahu-membahu bersinergi dengan pemerintah agar tujuannya tidak ada lagi masyarakat kita yang menahan sakit karena terkendala biaya,” tegas dr. Yusuf.
Tak sekadar memberikan pelayanan medis gratis, dr. Yusuf juga merancang skema pembayaran unik yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat.
Pasien yang tidak memiliki uang dapat membayar pengobatan dengan hafalan Pancasila, membawa botol plastik bekas untuk didaur ulang, barter hasil tani seperti buah dan sayur, hingga cukup membayar dengan melafalkan doa.
Langkah ini ia lakukan agar bantuan kesehatan yang diberikan tetap menjaga martabat pasien tanpa membuat mereka merasa rendah diri.
“Jadi poin utamanya tetap kita membantu, tapi jangan sampai juga kita mendidik mereka untuk tidak berikhtiar, tidak berusaha gitu. Poin utama adalah jangan pernah menilai dari seberapa yang mereka berikan, tetapi dari usahanya yang kita apresiasi,” kata dr. Yusuf.
Ubah Paradigma Lewat Cek Kesehatan Gratis
Berdasarkan data Profil Statistik Kesehatan 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk Indonesia yang mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir terus menanjak dari 26,37% di tahun 2023, menjadi 27,34% di tahun 2024, sampai akhirnya menyentuh 28,31% pada 2025.
Beban kesehatan ini paling berat dirasakan oleh kelompok usia rentan yang mana angka keluhan kesehatan pada balita mencapai 40,12% dan lansia menyentuh 44,02%, dengan proporsi di daerah perdesaan sebesar 28,95% lebih tinggi dibanding perkotaan yang sebesar 27,88%.
Temuan ini menjadi sinyal kuat pentingnya penanganan preventif sejak dini, sebelum keluhan berkembang menjadi kondisi kronis.
Sejalan dengan pengalaman dr. Yusuf dan data terkait, Kemenkes pun menghadirkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
CKG hadir untuk menjawab lonjakan tren keluhan kesehatan dan mengurangi ketakutan masyarakat terhadap tingginya biaya pemeriksaan kesehatan,
Program ini pun dirancang untuk mengubah paradigma kesehatan masyarakat dari yang semula baru berobat saat sudah parah, menjadi rajin mendeteksi kondisi tubuh saat masih sehat.
Program CKG sudah bisa dirasakan masyarakat sejak Februari 2025 di seluruh puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), serta klinik pelayanan kesehatan di berbagai daerah dan kabupaten/kota.
Lewat CKG, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat mengetahui fungsi organ, mendeteksi potensi penyakit kronis, hingga mengontrol kesehatan secara berkala tanpa dipusingkan oleh biaya.

(Neng Wulan A. I. saat melakukan CKG. Dok. Pribadi)
Dampak Nyata Cek Kesehatan Gratis
Antusiasme masyarakat terhadap program CKG terbilang cukup tinggi. Berdasarkan data Kemenkes, sampai dengan 5 Juli 2026 tercatat sebanyak 59,6 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan CKG.
Angka ini berhasil melampaui target mingguan yang ditetapkan pemerintah. Kemenkes optimistis, seiring dimulainya tahun ajaran baru di seluruh Indonesia, partisipasi warga akan terus melonjak sampai memenuhi target 130 juta peserta pada akhir 2026.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa CKG bukan sekadar program skrining massal terbesar di Indonesia, melainkan fondasi perubahan paradigma dari pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif (mengobati) menjadi preventif (mencegah).
“Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang,” jelas Budi.
Manfaat nyata dari program ini salah satunya dirasakan oleh Neng Wulan Anugrah Illahi (28). Berawal dari keberaniannya mencoba memeriksakan diri lewat program CKG, Neng justru baru menyadari bahwa dirinya memiliki kadar kolesterol tinggi.
Dari hasil skrining tersebut, ia langsung mendapatkan penanganan medis berupa resep obat generik dari dokter di fasilitas kesehatan.
Tak berhenti di situ, Neng juga mencoba mengubah pola hidup perlahan menjadi lebih sehat. Ia pun mulai lebih memperhatikan asupan yang masuk ke tubuhnya agar tak menimbulkan penyakit kronis.
Menurut Wulan, program CKG sangat bermanfaat, terutama bagi masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan.
Dengan adanya skrining gratis ini, potensi gangguan kesehatan seperti gula darah tinggi maupun kolesterol bisa terdeteksi lebih awal, sehingga masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi. Termasuk melakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih lengkap di laboratorium jika diperlukan.
Sejalan dengan hal tersebut, Menkes Budi menegaskan bahwa CKG bukan sekadar program skrining massal terbesar di Indonesia, melainkan fondasi perubahan paradigma dari pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif (mengobati) menjadi preventif (mencegah).
“Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang,” jelas Budi.
CKG Bantu Masyarakat Cegah PTM Kronis
Menariknya, program CKG tidak hanya berhenti pada tahap deteksi dini. Memasuki tahun 2026, CKG melangkah ke tahap tatalaksana dan pengobatan bagi peserta yang terdiagnosis penyakit kronis, khususnya hipertensi dan diabetes melitus.
Hasil sementara menunjukkan sekitar 35,4% pasien hipertensi yang terdiagnosis pada CKG 2025, telah kembali melakukan pemeriksaan pada CKG 2026. Kemudian, dari jumlah tersebut sebanyak 46,9% telah berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
Sementara itu, pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1% telah kembali melakukan pemeriksaan, dan 69,4% di antaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah.
Pemerintah menargetkan pada tahun ini sedikitnya 50% penderita menjalani pengobatan rutin, dengan 50% di antaranya berhasil mencapai kondisi terkendali, atau sekitar seperempat dari seluruh penderita hipertensi dan diabetes yang ditemukan melalui CKG.
Budi menjelaskan, keberhasilan pengendalian penyakit kronis akan memberikan dampak besar terhadap penurunan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke.
“Melalui Cek Kesehatan Gratis, kita berharap penyakit dapat ditemukan lebih cepat, sehingga segera ditangani. Jangan menunggu sampai muncul keluhan atau komplikasi,” tutup Budi.

