Penulis: Grace Kolin
Tanggal 22 Desember yang jatuh pada hari esok tidak hanya sekadar memperingati Hari Ibu Nasional tetapi juga memperingati Festival Dongzhi. Festival ini merupakan salah satu festival yang penting bagi masyarakat Tionghoa, dimana dalam festival ini menjadi penanda bahwa musim dingin akan segera datang dan masa panen sudah usai.
Festival ini biasa diwarnai dengan tradisi kumpul keluarga, berdoa untuk leluhur dan menikmati makanan khas festival. Setiap tempat umumnya memiliki makanan khasnya masing-masing. Di Indonesia sendiri, makanan khas festival ini adalah tangyuan atau yang biasa disebut dengan ronde. Makanan ini melambangkan persatuan dan kemakmuran pada keluarga.
Ada dua jenis ronde atau onde yang biasa disajikan, yaitu ronde tanpa isi dan ronde dengan isi seperti kacang tanah, kacang hitam dan wijen. Biasanya, ronde dibuat dalam berbagai warna dan setiap warna memiliki filosofi masing-masing. Misalnya, warna merah melambangkan keberanian, warna hijau melambangkan karunia, dan warna putih menyimbolkan hati yang bersih.
Selain itu, kuah ronde yang terbuat dari kuah gula dan jahe juga juga memiliki sejumlah makna, seperti air jahe yang bermakna kehangatan dan rasa manis dari gula yang melambangkan keberkahan.
Masing-masing anggota keluarga akan menikmati jumlah ronde sesuai dengan jumlah umur mereka ditambah dengan satu ronde. Hal ini menjadi simbol dan harapan agar umur orang yang mengonsumsi ronde tersebut bisa bertambah panjang.

