Sumber Gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Media sosial tidak hanya membantu seseorang dalam memperluas relasi ataupun memelihara hubungan dengan orang yang dikenal, namun juga menjadi wadah untuk mengekspresikan diri. Salah satu bentuk ekspresi diri di media sosial adalah berbagi informasi. Namun, apa jadinya jika informasi yang dibagikan adalah informasi yang sifatnya pribadi dan dilakukan secara massif?
Aktivitas itu dinamakan dengan oversharing. Terdapat beragam motif mengapa seseorang suka melakukan oversharing menurut laman greatmind.id. Seperti adanya perilaku kompulsif yang mempersulit seseorang untuk mengendalikan keinginan berbagi konten di akun media sosial, faktor kebosanan, kurangnya rasa kepercayaan diri, faktor egosentris, ataupun perasaan aman karena bisa mengungkapkan apa saja di dunia maya tanpa harus bertatap langsung dengan manusia.
Terkadang, sebagian orang tidak sadar sudah melakukan oversharing. Tidak hanya dapat membuat pengikut di media sosial menjadi tidak nyaman, perilaku oversharing juga dapat menjadi ‘bumerang’ pagi pelaku oversharing sendiri. Berikut adalah bahaya yang mengintai di balik perilaku oversharing di media sosial, sebagaimana yang dilansir dari gaya.tempo.co:
- Terlalu banyak membagikan suatu informasi di media sosial bisa menyebabkan efek kecanduan.
- Memicu perundungan di dunia maya atau cyberbullying.
- Menyebabkan perbandingan diri dengan orang lain yang justru bisa menurunkan harga diri.
- Memunculkan kesempatan tindak kriminal melalui pencurian data pribadi yang dapat disalahgunakan.
Bahaya dari perilaku oversharing dapat dihindari dengan:
- Memeriksa kembali konten yang akan dibagikan
Seleksi konten yang dibuat untuk selanjutnya diputuskan, apakah layak dibagikan atau tidak. Jika menemukan konten yang terlalu banyak mengumbar informasi pribadi, berpotensi membuat malu diri sendiri atau bahkan bisa berdampak negatif pada reputasi, sebaiknya urungkan niat untuk membagikan konten tersebut.
- Alihkan media untuk berbagi
Berbagi tidak hanya dapat dilakukan ke media sosial saja. Jika seseorang butuh tempat menyalurkan perasaan yang dirasakan, seseorang dapat memilih untuk bercerita kepada orang terdekat.
- Simpan dokumentasi di gawai
Simpanlah dokumentasi di galeri gawai. Apabila ingin berbagi, pilihlah dokumentasi yang paling tidak menarik perhatian orang. Selain agar dapat terhindar dari aksi kejahatan, menyimpan dokumentasi di galeri gawai juga bagus untuk menahan diri dari perilaku oversharing menurut laman bola.com.
- Jangan unggah konten saat emosi kurang stabil
Saat kondisi emosional kurang stabil, seperti sedang galau atau ingin marah hindari mengunggah konten di media sosial. Sebaiknya mengambil jeda dan jarak dulu dari gawai. Faktanya, menurut laman halodoc.com pelaku oversharing berasal dari orang-orang yang galau atau sedang dikuasai emosi.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

