Penulis : Grace Kolin

Anak autisme memiliki hak yang sama. yaitu mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orangtua serta mampu mendapatkan pendidikan untuk bekal di masa depannya. Untuk membantu mewujudkan hak tersebut, para terapis di Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) dii wilayah Ciputat Timur, Tangerang Selatan rutin memberikan pelatihan dan terapi secara gratis untuk anak penyandang autisme.

Sudah lebih dari 186 anak autisme dari beragam wilayah di Indonesia yang diberikan penanganan dan kelas terapi, mulai dari Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Jepara, Madiun, hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat. Warga yang anak-anaknya diberikan terapi yayasan ini berasal dari keluarga prasejahtera yang memiliki keterbatasan dalam keuangan untuk mengobati atau memberikan terapi bagi anak-anaknya.

“Artinya saat ini kita fokus melebarkan sayap ke tepian negeri. Kenapa? Karena banyak sekal anak yang kita temukan yang mereka itu belum mendapat penanganan. Edukasi orang tua itu perlu. Kenapa? Karena orang tua itu mau dibawa ke rumah sakit anaknya juga mahal. Kemudian kalaupun dibawa ke rumah sakit, apakah penanganannnya sudah tepat atau tidak?” kata General Affair YCHI, Tantowi Yahya.

Yayasan ini membuka kelas terapi mulai dari hari Senin hingga Jumat dengan menerapkan terapi berbasis ABA atau applied behavior analysis, yaitu sebuah metode untuk mengajarkan keterampilan dan fokus anak-anak autis. Seperti mengajarkan untuk merespon, melakukan arahan orang lain, mendeskripsikan sebuah benda, meniru ucapan dan gerakan orang lain, hingga mengajarkan baca tulis.

Salah satu anak yang diberikan terapi adalah Zafran. Anak ini mengalami autisme sejak lahir. Menyandang autisme membuatnya tidak bisa bicara dengan baik dan tidak bisa merespon orang yang mengajaknya bicara. Zafran pun didaftarkan orangtuanya untuk mengikuti terapi di yayasan ini dua kali dalam seminggu.

“Kalau yang saya kasih terapinya ke Zafran tadi itu saya mau ngelatih Zafran untuk bisa fokus dulu. Kayak awareness-nya terhadap lingkungannya, dia itu gak peduli, yang penting dia lagi main ya main gitu. Jadi yang saya kasih tadi terapinya itu yang jalan, dari satu tempat ke tempat lain, biar dia fokus,” ujar Conita Lutfiyah, terapis di YCHI.

Tidak hanya memberikan terapi bagi anak yang menyandang autisme seperti Zafran, para orangtua juga diberikan edukasi dan pemahaman dari terapis mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan bagi sang anak.

Rossa Harunissa, orang tua Zafran merasa sukacita melihat perkembangan positif buah hatinya di Yayasan Cinta Harapan Indonesia. Pasalnya hampir satu tahun menerima terapi di YCHI, kini Zafran dapat mengelola emosinya dan perlahan mampu merespon lawan bicaranya. “Jadi dia emosinya lebih stabil, terus kalau misalnya dia marah, kita bilang stop hentikan, dia diam. Tadinya gak bisa sama sekali dikontrol emosinya jadi sering tantrum, sekarang udah gak terlalu,” imbuh Rossa.