{"id":93602,"date":"2023-11-22T10:03:57","date_gmt":"2023-11-22T03:03:57","guid":{"rendered":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/?p=93602"},"modified":"2023-11-22T10:54:23","modified_gmt":"2023-11-22T03:54:23","slug":"bisa-turunkan-penyebaran-dbd-kenali-apa-itu-nyamuk-wolbachia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/bisa-turunkan-penyebaran-dbd-kenali-apa-itu-nyamuk-wolbachia\/","title":{"rendered":"Bisa Turunkan Penyebaran DBD, Kenali Apa Itu Nyamuk Wolbachia?"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; width=&#8221;100%&#8221; width_tablet=&#8221;100%&#8221; width_phone=&#8221;100%&#8221; width_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; max_width=&#8221;100%&#8221; collapsed=&#8221;off&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;Artikel Layout&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_image src=&#8221;https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Feature-Image-Artikel-Low-Res.jpg&#8221; alt=&#8221;Kaligrafi Tiongkok&#8221; title_text=&#8221;Feature Image Artikel (Low Res)&#8221; force_fullwidth=&#8221;on&#8221; admin_label=&#8221;Foto&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; border_radii=&#8221;on|10px|10px|10px|10px&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/et_pb_image][et_pb_text admin_label=&#8221;Keterangan Foto&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Lato|300|||||||&#8221; text_font_size=&#8221;16px&#8221; custom_margin=&#8221;-5px||25px||false|false&#8221; custom_margin_tablet=&#8221;-5px||25px||false|false&#8221; custom_margin_phone=&#8221;-20px||30px||false|false&#8221; custom_margin_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; custom_padding=&#8221;|0px|||false|false&#8221; text_font_size_tablet=&#8221;&#8221; text_font_size_phone=&#8221;14px&#8221; text_font_size_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<p>Ilustrasi nyamuk Wolbachia (Foto<span class=\"hqiMtw _6pE_dQ\">: <span class=\"selectable-text copyable-text\">witsawat sananrum via Getty Images<\/span>)<\/span><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text admin_label=&#8221;Paragraf&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_size=&#8221;20px&#8221; text_line_height=&#8221;1.6em&#8221; header_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; header_2_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; header_2_font_size=&#8221;30px&#8221; header_6_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; custom_padding=&#8221;|0px||||&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; text_font_tablet=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_phone=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; text_font_size_tablet=&#8221;&#8221; text_font_size_phone=&#8221;16px&#8221; text_font_size_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; header_2_font_size_tablet=&#8221;30px&#8221; header_2_font_size_phone=&#8221;25px&#8221; header_2_font_size_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; border_radii=&#8221;on|10px|10px|10px|10px&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><strong><em>Wolbachia<\/em><\/strong><strong> adalah bakteri yang dapat tumbuh alami pada 50% spesies serangga, termasuk nyamuk, lalat buah, ngengat, capung, dan kupu-kupu.<\/strong><\/p>\n<p><em>Wolbachia<\/em> biasanya tidak ditemukan pada nyamuk <em>Aedes aegypti,<\/em> yakni nyamuk yang menularkan virus demam berdarah <em>dengue <\/em>(DBD), zika, chikungunya dan demam kuning.<\/p>\n<p>Mengutip dari World Mosquito Program (WMP), penelitian yang dilakukan oleh organisasi tersebut menunjukkan, ketika diperkenalkan ke dalam nyamuk <em>Aedes aegypti<\/em>, bakteri <em>Wolbachia<\/em> dapat membantu mengurangi penularan virus yang mereka bawa.<\/p>\n<p>WMP sendiri juga memaparkan bakteri <em>Wolbachia<\/em> ke dalam nyamuk <em>Aedes aegypti<\/em> di laboratorium dan melepaskannya ke alam liar. Nyamuk ini pun kemudian dikenal dengan nyamuk Wolbachia.<\/p>\n<p>Peneliti memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk <em>Aedes aegypti<\/em> dengan harapan bisa menekan penyebaran DBD.<\/p>\n<p>Penelitian lebih lanjut menunjukkan, ketika nyamuk jantan Wolbachia kawin dengan betina non-Wolbachia, telur-telur yang dihasilkan akan mati.<\/p>\n<p>Saat betina dan jantan <em>Aedes aegypti<\/em> ber-Wolbachia kawin, nyamuk betina akan menghasilkan keturunan yang mengandung Wolbachia di tubuh anak-anaknya, sehingga tidak lagi bisa menularkan virus <em>dengue<\/em> ke manusia.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu, persentase nyamuk membawa <em>Wolbachia<\/em> terus bertambah hingga mencapai persentase yang tinggi tanpa tanpa perlu dilakukan pelepasan lebih lanjut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Apakah Nyamuk <em>Wolbachia<\/em> Aman?<\/strong><\/p>\n<p><em>Wolbachia<\/em> aman bagi manusia dan lingkungan. Analisis risiko independen menunjukkan, pelepasan nyamuk <em>Wolbachia<\/em> memiliki risiko yang sangat kecil bagi manusia dan lingkungan.<\/p>\n<p><em>Wolbachia<\/em> hidup di dalam sel serangga dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui telur serangga. Nyamuk <em>Aedes aegypti<\/em> biasanya tidak membawa <em>Wolbachia<\/em>, tetapi banyak nyamuk lain yang membawa <em>Wolbachia<\/em>.<\/p>\n<p>Efektivitas <em>Wolbachia<\/em> telah diteliti sejak 2011 yang dilakukan oleh WMP di Yogyakarta dengan dukungan filantropi Yayasan Tahija. Penelitian dilakukan melaui fase persiapan dan pelepasan <em>Aedes aegypti<\/em> ber-<em>Wolbachia<\/em> dalam skala terbatas. Setelah itu dilakukan fase pelepasan nyamuk berskala luas untuk mengukur dampaknya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Efektivitas Nyamuk <em>Wolbachia<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Di Indonesia sendiri, nyamuk <em>Wolbachia<\/em> sudah disebar di Kota Yogyakarta dan Bantul pada tahun 2022 lalu.<\/p>\n<p>Setelah dilakukan pemantauan, hasilnya diketahui bahwa lokasi yang telah disebar <em>Wolbachia<\/em> terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77%. Intervensi ini jauh lebih efektif dibandingkan pemberian vaksin <em>dengue<\/em>. Selain itu, dari segi pembiayaan juga diklaim lebih murah.<\/p>\n<p>\u201cPenelitian WMP Yogyakarta, membuktikan bahwa di wilayah yang kita sebari nyamuk angka <em>dengue<\/em><em>&#8211;<\/em>nya menurun 77,1% dan angka <em>hospitalization<\/em> karena <em>dengue<\/em> berkurang 86,1%. Intervensi ini efektivitasnya lebih bagus daripada vaksin <em>dengue<\/em>,\u201d ujar Peneliti Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Adi Utarini M.Sc., MPH, PhD, dalam keterangannya, dikutip Rabu (22\/11).<\/p>\n<p>Selain efisien dan efektif, ia memastikan <em>Wolbachia<\/em> aman dan gigitannya tidak akan berdampak terhadap kesehatan manusia.<\/p>\n<p>Uut berharap, inovasi teknologi <em>Wolbachia<\/em> bisa diadaptasi sebagai program nasional dalam kerangka menurunkan penyebaran <em>dengue<\/em> di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cJadi ini merupakan salah satu inovasi yang harapannya bisa menguatkan program pengendalian <em>dengue<\/em> di Indonesia agar masyarakat bisa terhindar dari <em>dengue<\/em>,\u201d kata Uut.<\/p>\n<p>Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Emma Rahmi Aryani juga menegaskan adanya penurunan penyebaran <em>d<\/em><em>engue<\/em> yang signifikan, setelah adanya penerapan <em>Wolbachia<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cJumlah kasus di Kota Yogyakarta pada bulan Januari hingga Mei 2023, dibandingkan pola maksimum dan minimum di 7 tahun sebelumnya (2015 \u2013 2022) berada di bawah garis minimum,\u201d terang Emma<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kekhawatiran Masyarakat<\/strong><\/p>\n<p>Belakangan, nyamuk Wolbachia gencar disebar oleh Pemerintah Indonesia sebagai langkah lebih lanjut untuk menekan penyakit DBD.<\/p>\n<p>Namun, kehadiran nyamuk Wolbachia dinilai bisa membahayakan karena dianggap sebagai hasil dari rekayasa genetik. Banyak orang skeptis dan percaya nyamuk Wolbachia dapat menularkan penyakit radang otak, bahkan merusak genetik.<\/p>\n<p>\u201cMasyarakat pada awalnya memang ada kekhawatiran karena pemahaman dari masyarakat itu nyamuk ini dilepas kok bisa mengurangi (DBD). Tapi seiring berjalan dan kita sudah ada edukasi, ada sosialisasi, sekarang masyarakat justru semakin paham, bahwa sebenarnya teknologi ini untuk mengurangi DBD,\u201d tutup Lurah Patangpuluhan Yogyakarta Sigit Hartobudiono.<\/p>\n<p>Meski demikian, keberadaan inovasi teknologi <em>Wolbachia<\/em> tidak serta merta menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian <em>dengue<\/em> yang telah ada di Indonesia.<\/p>\n<p>Masyarakat tetap diminta untuk melakukan gerakan 3M Plus seperti Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang, serta tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan.<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][brbl_post_grid include_categories=&#8221;861&#8243; order_by=&#8221;rand&#8221; post_count=&#8221;4&#8243; content_padding=&#8221;0px|30px|0px|30px|false|false&#8221; title_spacing_top=&#8221;0px&#8221; title_spacing_bottom=&#8221;10px&#8221; column_count=&#8221;2&#8243; column_gap_x=&#8221;0px&#8221; column_gap_y=&#8221;13px&#8221; show_avatar=&#8221;off&#8221; show_excerpt=&#8221;off&#8221; show_author=&#8221;off&#8221; show_date=&#8221;off&#8221; content_bg_color=&#8221;RGBA(255,255,255,0)&#8221; post_padding_tablet=&#8221;&#8221; post_padding_phone=&#8221;&#8221; post_padding_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; content_padding_last_edited=&#8221;off|phone&#8221; column_count_tablet=&#8221;2&#8243; column_count_phone=&#8221;1&#8243; column_count_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; column_gap_x_tablet=&#8221;0px&#8221; column_gap_x_phone=&#8221;0px&#8221; column_gap_x_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; title_text_color=&#8221;#000000&#8243; title_line_height=&#8221;1.3em&#8221; custom_margin=&#8221;|-20px||-20px|false|false&#8221; custom_margin_tablet=&#8221;|-20px||-20px|false|false&#8221; custom_margin_phone=&#8221;|-20px||-20px|false|false&#8221; custom_margin_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; custom_padding=&#8221;||||false|false&#8221; title_font_size_tablet=&#8221;&#8221; title_font_size_phone=&#8221;16px&#8221; title_font_size_last_edited=&#8221;on|tablet&#8221; title_line_height_tablet=&#8221;1.3em&#8221; title_line_height_phone=&#8221;1.3em&#8221; title_line_height_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; border_width_all_content=&#8221;0px&#8221; border_style_all_content=&#8221;none&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][\/brbl_post_grid][et_pb_text admin_label=&#8221;Judul Video&#8221; _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_size=&#8221;20px&#8221; text_line_height=&#8221;1.6em&#8221; header_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; header_2_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; header_2_font_size=&#8221;30px&#8221; header_6_font=&#8221;Lato|900|||||||&#8221; custom_margin=&#8221;50px||||false|false&#8221; custom_padding=&#8221;|0px||||&#8221; text_font_tablet=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_phone=&#8221;Lato||||||||&#8221; text_font_last_edited=&#8221;on|desktop&#8221; text_font_size_tablet=&#8221;&#8221; text_font_size_phone=&#8221;16px&#8221; text_font_size_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; header_2_font_size_tablet=&#8221;30px&#8221; header_2_font_size_phone=&#8221;25px&#8221; header_2_font_size_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<h3>Simak Video Pilihan di Bawah Ini:<\/h3>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_code _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<iframe loading=\"lazy\" width=\"560\" height=\"315\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/PDIByzFwZpw?si=XJfcJT7UxnWKduAs\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen><\/iframe>[\/et_pb_code][et_pb_code _builder_version=&#8221;4.19.3&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<iframe loading=\"lazy\" style=\"border: none; overflow: hidden;\" src=\"https:\/\/www.facebook.com\/plugins\/like.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fdaaitvindonesia&#038;width=450&#038;layout=standard&#038;action=like&#038;size=large&#038;share=false&#038;height=35&#038;appId=2187618734841213\" width=\"450\" height=\"35\" frameborder=\"0\" scrolling=\"no\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe>[\/et_pb_code][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wolbachia adalah bakteri yang dapat tumbuh alami pada 50% spesies serangga, termasuk nyamuk, lalat buah, ngengat, capung, dan kupu-kupu. Aman kah bagi manusia?<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":93611,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"none","_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[1100,861],"tags":[8276,8275,8277,8273,8274],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93602"}],"collection":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93602"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93602\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":93623,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93602\/revisions\/93623"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/media\/93611"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}