{"id":75759,"date":"2022-06-19T08:00:00","date_gmt":"2022-06-19T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.daaitv.co.id\/DAAI-WP\/?p=75759"},"modified":"2022-06-26T19:09:28","modified_gmt":"2022-06-26T12:09:28","slug":"tas-dari-limbah-payung-plastik-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/tas-dari-limbah-payung-plastik-di-jepang\/","title":{"rendered":"Tas dari Limbah Payung Plastik di Jepang"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221;][et_pb_row _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221;][et_pb_image src=&#8221;https:\/\/www.daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Gambar-tas-tangan-dari-limbah-payung-plastik-dari-NHK-WORLD-JAPAN.jpg&#8221; alt=&#8221;Payung yang terbuat dari limbah payung plastik di Jepang.&#8221; title_text=&#8221;Gambar tas tangan dari limbah payung plastik dari NHK WORLD-JAPAN&#8221; _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][\/et_pb_image][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Inter||||||||&#8221; text_text_color=&#8221;#B2B3B2&#8243; text_font_size=&#8221;11px&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Sumber Gambar : NHK WORLD-JAPAN<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Inter||||||||&#8221; text_text_color=&#8221;#606A70&#8243; text_font_size=&#8221;11px&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221;]<\/p>\n<p><strong>Penulis :<\/strong><strong> Grace Kolin<\/strong><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Inter||||||||&#8221; custom_padding=&#8221;|0px||||&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; text_font_size_tablet=&#8221;&#8221; text_font_size_phone=&#8221;16px&#8221; text_font_size_last_edited=&#8221;on|phone&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Negara Jepang memiliki musim hujan yang panjang, yaitu mulai dari akhir Mei sampai pertengahan Juli. Dalam menghadapi musim ini, sebagian besar masyarakat Jepang menggunakan payung agar mereka tidak terkena air hujan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melansir dari <a href=\"https:\/\/youtu.be\/4pdscvDycqs\">NHK WORLD-JAPAN<\/a> ada sekitar 120 juta payung yang digunakan di Jepang setiap tahunnya. Dari 120 juta, 80 juta diantaranya adalah <em>biniiru-gasa,<\/em> payung yang terbuat dari plastik dan memiliki harga yang murah. Payung ini dijual di hampir setiap toko serba-ada di Jepang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena mudah didapatkan, sebagian orang kerap membuang <em>biniiru-gasa<\/em> dengan mudahnya, tanpa berpikir panjang. Padahal, payung ini sulit untuk dihancurkan dan didaur ulang. Sehingga pembuangan massal dari payung plastik ini menjadi isu sosial yang serius.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saito Aki, seorang warga Tokyo berinisiatif memberikan \u2018kehidupan kedua\u2019 pada limbah <em>biniiru-gasa<\/em>. Ia mendaur ulang limbah payung ini menjadi tas tangan (<em>handbag<\/em>). Ia membuat tas tangan ini dengan cara memisahkan plastik transparan dari tulang rusuk logam, kemudian membersihkannya dari kotoran yang menempel. Plastik yang sudah dicuci kemudian dilipat dan disetrika. Seusai disetrika, material utama dari tas tangan Saito siap untuk dirakit menjadi tas tangan yang <em>stylish.<\/em> Tas tangan kreasi Saito memiliki tekstur yang cantik, mirip tetesan air hujan di kaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sekian banyak koleksi tas tangan Saito, tas tangan dengan jejak karatlah yang paling unik. \u201cKaratnya mengingatkanmu pada kehidupan lampau plastik ini sebagai payung. Tampilan unik dari tiap produk hanya dapat diciptakan dari proses daur ulang,\u201d ujar Saito. \u00a0<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada usia 26 tahun, Saito belajar membuat tas di sekolah desain aksesoris. <em>Handbag <\/em>pertama buatannya tercipta dari rok kulit bekas. Namun pada akhirnya, Saito memutuskan untuk tidak lagi menggunakan material kulit hewan dalam membuat tasnya, karena ia tidak bisa memisahkan produk hewani dari makhluk hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai pengganti material kulit hewan, Saito memilih menggunakan bahan yang <em>animal friendly<\/em>, seperti <em>biniiru-gasa<\/em>. \u201cMereka dikirim ke luar negeri, dibuang ke tempat pembuangan sampah, Anda melihat mereka tergeletak di mana-mana. Ini adalah isu yang benar-benar dapat saya hubungkan dengan produk saya,\u201d kata Saito.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah berkali-kali mencoba, Saito akhirnya berhasil menemukan metode yang tepat dalam membuat tasnya. Ia kemudian memamerkan karyanya di pameran sekolah. Tidak disangka, dan desainnya dilirik industri daur ulang. Sehingga idenya untuk memproduksi tas ini dalam skala besar pun dapat terwujud.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini Saito sedang mengembangkan desain tas <em>practical backpack<\/em> untuk menarik calon konsumen dari kalangan pria. Pasalnya, mayoritas konsumen tas Saito berasal dari kalangan perempuan. Ia ingin agar semakin banyak orang yang sadar akan masalah limbah <em>biniiru-gasa<\/em>. Ia juga tidak mengejar keuntungan dari penemuannya ini, bahkan ia memiliki impian mulia \u00a0melalui produknya. Ia berharap, kedepannya orang tidak lagi membuang <em>biniiru-gasa<\/em> dengan mudahnya, sehingga suplai bahan baku dari tasnya dapat berhenti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; text_font=&#8221;Inter||||||||&#8221; text_text_color=&#8221;#606A70&#8243; text_font_size=&#8221;11px&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><em>Artikel ini dibuat dari berbagai sumber<\/em><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_code _builder_version=&#8221;4.14.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; theme_builder_area=&#8221;post_content&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/www.facebook.com\/plugins\/like.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fdaaitvindonesia&#038;width=450&#038;layout=standard&#038;action=like&#038;size=large&#038;share=false&#038;height=35&#038;appId=2187618734841213\" width=\"450\" height=\"35\" style=\"border:none;overflow:hidden\" scrolling=\"no\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"true\" allow=\"autoplay; clipboard-write; encrypted-media; picture-in-picture; web-share\"><\/iframe>[\/et_pb_code][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melansir dari NHK World-Japan ada sekitar 120 juta payung yang digunakan di Jepang setiap tahunnya. Dari 120 juta, 80 juta diantaranya adalah biniiru-gasa, payung yang terbuat dari plastik dan memiliki harga yang murah. Payung ini dijual di hampir setiap toko serba-ada di Jepang. Karena mudah didapatkan, sebagian orang kerap membuang biniiru-gasa dengan mudahnya, tanpa berpikir panjang. Padahal, payung ini sulit untuk dihancurkan dan didaur ulang. Sehingga pembuangan massal dari payung plastik ini menjadi isu sosial yang serius. <\/p>\n","protected":false},"author":18,"featured_media":75764,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"none","_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":""},"categories":[861],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75759"}],"collection":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=75759"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75759\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75780,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/75759\/revisions\/75780"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/media\/75764"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=75759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=75759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/daaitv.co.id\/DAAI-WP\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=75759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}