Penulis : Grace Kolin

Suku Baduy adalah kelompok etnis yang hidup di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Selain tradisi dan budaya, suku ini juga memiliki kerajinan khas yang unik bernama Koja. Koja yang berarti tas merupakan anyaman berbentuk tas yang berbahan dasar kulit pohon teureup. Kerajinan ini secara turun temurun diwariskan dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat Baduy sembari menunggu masa panen datang.

Untuk memperoleh batang pohon teureup, warga Baduy harus pergi ke hutan dan mencari di antara perkebunan karet. Kulit teureup yang sudah dibersihkan kemudian dijemur selama satu hari, lalu dipintal hingga menyerupai benang wol. Usai proses pemintalan, benang kemudian disimpan dalam batang bambu dan dipola membentuk anyaman tas koja dengan ragam motif sesuai selera.

Jumlah dan ukuran dari batang pohon teureup turut menentukan pula jumlah dan ukuran tas koja yang dihasilkan. Misalkan, satu batang pohon teureup berukuran kecil dapat digunakan untuk membuat satu tas berukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran tas koja yang lebih besar, biasanya memerlukan dua batang pohon teureup berukuran sedang.

Nurhayah adalah salah satu perajin tas koja. Dalam sebulan, Nurhayah mampu menghasilkan sekitar 20 tas koja berukuran kecil. Hasil kerajinan ini kemudian dikumpulkan kepada pengepul untuk dijual di terminal Ciboleger dan sisanya dibawa ke kota.

Sebelum menggunakan kulit pohon, masyarakat Baduy pedalaman menggunakan benang sebagai bahan dasar pembuatan tas koja. Namun penggunaan benang dinilai tidak tahan lama. Sehingga masyarakat mengganti penggunaan bahan dari benang menjadi kulit pohon teureup. Tas koja khas Baduy memiliki umur penggunaan yang panjang, yaitu puluhan tahun dengan catatan tidak terkena air, khususnya air hujan. Tas ini juga kuat dan memiliki ketahanan terhadap rayap.