Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi sorry syndrome (Foto: Pixelshot)

Sorry syndrome adalah kondisi yang terjadi ketika seseorang meminta maaf secara berlebihan, bahkan untuk kesalahan yang tidak diperbuat. Lalu, apa penyebab sorry syndrome?

Di dalam kehidupan sehari-hari, tentunya meminta maaf atas suatu kesalahan merupakan hal yang wajar. Namun, apa jadinya jika seseorang terus meminta maaf, bahkan untuk kesalahan kecil atau kesalahan yang tidak diperbuat?

Kebiasaan meminta maaf secara berlebihan ini tidak membuat seseorang terlihat tulus, tetapi sebaliknya malah membuat terlihat lemah dan tunduk.

Kondisi ini dikenal sebagai sorry syndrome. Salah satu alasan seseorang kerap meminta maaf secara berlebihan dapat berasal dari masa lalu atau masa kecil mereka.

 

Penyebab Sorry Syndrome

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab sorry syndrome. Namun, sorry syndrome kerap dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan sosial, gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan kepribadian ambang (BPD), serta gangguan stress pascatrauma (PTSD).

Seseorang yang pernah menjadi korban kekerasan, cenderung akan selalu meminta maaf dan berusaha patuh kepada pasangan, orang tua, atau keluarganya agar terhindari dari kekerasan lain.

Pada anak, pola asuh orang tua yang terlalu otoriter juga bisa membuat anak merasa terus merasa bersalah dan membuat mereka sering meminta maaf. Ini bisa memicu kurangnya rasa percaya diri pada anak, bahkan menimbulkan rasa bersalah palsu.

Kemudian, seseorang yang membutuhkan validasi juga bisa menjadi salah satu alasan penyebab sorry syndrome.

Orang yang mengidap sorry syndrome kerap merasakan perasaan rendah diri seperti merasa menjadi penghalang, beban, atau pengganggu yang membuat mereka merasa harus sering meminta maaf.

 

Tanda-tanda Pengidap Sorry Syndrome

Sering meminta maaf untuk hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, meminta maaf atas tindakan orang lain, interaksi normal sehari-hari, meminta maaf kepada benda mati, meminta maaf untuk hal-hal yang sepele, mencoba untuk bersikap tegas, atau meminta maaf ketika membutuhkan sesuatu.

 

Kapan Harus Meminta Maaf

Alih-alih meminta maaf dengan asal-asalan, salah satu yang baik untuk mengetahui apakah sesuatu membutuhkan permintaan maaf atau tidak adalah dengan bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya perlu meminta maaf?”

Pastikan untuk meminta maaf ketika menyakiti seseorang.

Minta maaf ketika menyinggung, mengecewakan, atau melukai perasaan seseorang.

Mintalah maaf ketika menyesali perilaku diri sendiri.

Minta maaf untuk mengakhiri perselisihan dan meninggalkan dendam lama.

Belajarlah untuk dapat meminta maaf kepada diri sendiri karena kita semua pernah melakukan kesalahan.

 

Cara Berhenti Meminta Maaf

Ada beberapa cara yang sangat mudah untuk mulai membalikkan keadaan dan mengurangi kebiasaan meminta maaf secara berlebihan, yakni sebagai berikut.

Cari alternatif untuk mengubah kata “maaf” menjadi “terima kasih”.

Ubah bahasa yang digunakan untuk setidaknya memulai dengan hal yang positif.

Salah satu hal yang penting untuk diingat, adalah bahwa sorry syndrome bukanlah sesuatu yang membuat seseorang terjebak.

Sindrom ini tidak mendefinisikan diri seseorang, sehingga dengan sedikit usaha dan ketekunan sindrom ini pasti dapat diatasi.

Permintaan maaf yang berlebihan dapat mengubah cara orang melihat diri kita, bahkan bisa menarik orang-orang yang tidak baik karena mereka melihat kita sebagai sasaran empuk untuk dimanipulasi.

Sebaliknya, permintaan maaf yang tulus dapat mendorong pengampunan, mengurangi permusuhan, dan memperbaiki hubungan yang rusak. Mengucapkan kata maaf juga merupakan langkah pertama dalam proses penyembuhan yang sehat setelah terjadi perselisihan atau peristiwa negatif. Ingatlah bahwa segala sesuatu dalam hidup adalah tentang keseimbangan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: