Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi air limbah nuklir (Foto: CristiNistor via Getty Images)

Jepang mulai melepaskan air radioaktif yang merupakan olahan dari Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik, sejak Kamis (24/8) lalu.

Adapun pembuangan air limbah nuklir ini dilakukan 12 tahun setelah terjadinya salah satu kecelakaan nuklir terburuk di dunia.

Sejak tsunami pada 2011 yang merusak PLTN tersebut, ada lebih dari satu juta ton air limbah yang telah diolah terakumulasi di sana.

Meskipun sudah mendapat dukungan dari badan pengawas nuklir PBB, tetapi pembuangan air limbah nuklir ini memicu perdebatan dari berbagai pihak.

Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) melihat, pelepasan air olahan yang terkena radiasi PLT nuklir adalah tindakan yang dapat berdampak pada pencemaran perairan Indonesia.

Pasalnya, wilayah Indonesia terletak pada lintasan perbatasan perairan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Pola arus dapat membawa air yang terkontaminasi tersebut terbawa masuk ke perairan Indonesia. Dengan demikian, dampak lebih lanjut dapat terjadi, baik jangka pendek dalam rantai pangan maupun jangka panjang yang akan terakumulasi dalam jaringan manusia.

Mengutip dari BBC, sejak tsunami terjadi perusahaan pembangkit listrik Tokyo Electric Power (Tepco) telah memompa air untuk mendinginkan batang bahan bakar reaktor nuklir Fukushima.

Artinya, pabrik menghasilkan air yang terkontaminasi setiap hari yang disimpan dalam tangki-tangki besar.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 tangki telah terisi. Pihak Jepang mengatakan bahwa mereka membutuhkan lahan yang ditempati oleh tangki-tangki tersebut untuk membangun fasilitas baru yang bertujuan untuk menonaktifkan pembangkit listrik itu dengan aman. Selain itu, mereka juga khawatir tank-tank itu bisa roboh jika terjadi bencana alam.

Membuang air limbah yang telah diolah ke laut sebenarnya merupakan praktik lazim di PLTN. Meski demikian, para kritikus menyoroti bahwa jumlah limbah yang dihasilkan di Fukushima jauh lebih besar dan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Tepco sendiri, menyaring air dari PLTN Fukushima melalui Sistem Pemrosesan Cairan Lanjutan (ALPS) yang mengurangi sebagian besar zat radioaktif, sehingga mencapai standar keamanan yang dapat diterima, selain tritium dan karbon-14.

Tritium dan karbon-14 merupakan radioaktif dari hidrogen dan karbon yang sulit dipisahkan dari air.

Keduanya banyak ditemukan di alam, air, bahkan pada manusia karena terbentuk di atmosfer bumi dan dapat memasuki siklus air.

Keduanya memancarkan tingkat radiasi yang sangat rendah, tetapi dapat berisiko apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Jepang telah melepaskan air radioaktif olahan dari PLT Nuklir Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik pada 24 Agustus 2023 lalu.

Air limbah yang dibuang pada tahap pertama, adalah sebanyak 7.800 meter kubik. Namun, keseluruhan proses pelepasan air olahan tersebut, diperkirakan memakan waktu hingga sekitar 30 tahun. Di lokasi PLTN Fukushima sendiri, masih ada sekitar 1,3 juta ton air yang akan dilepaskan.

Secara terpisah, Pakar Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM) Yudi Utomo Imardjoko mengatakan, limbah nuklir mengandung zat radioaktif dengan umur yang panjang. Peluruhannya bisa membahayakan perairan dunia.

Zat radioaktif bisa menyebabkan dampak yang berbeda-beda bagi hewan dan manusia. Untuk manusia, bisa terasa pusing atau sakit kepala, epilepsi, pingsan, menyebabkan kanker, bahkan berujung kematian bila kadar kontaminasinya tinggi.

Sementara itu, dampak untuk hewan bisa menyebabkan kematian. Terutama untuk biota laut yang terkontaminasi.

Pakar Hukum Nuklir Universitas Airlangga (Unair) Koesrianti menjelaskan, bila limbah nuklir Jepang ingin dibuang ke laut, maka air limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu dan dipastikan aman.

Caranya bisa melalui beberapa proses seperti evaporasi, destilasi, dan penyaringan. Jika sudah didaur ulang, limbah bisa dibuang ke laut dengan catatan harus dalam pengawasan badan pengawas tenaga nuklir di Jepang dan internasional.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: