Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi gorengan (Foto: justhavealook via Getty Images Signature)

Salah satu camilan yang sering tersedia selama berbuka puasa adalah aneka gorengan. Namun, ternyata makan gorengan setiap hari bisa berbahaya bagi tubuh.

Saat menggoreng makanan, umumnya Sahabat DAAI akan menggunakan banyak minyak goreng agar makanan matang merata.

Setelah digoreng, makanan yang dihasilkan akan lebih renyah, kering, dan berwarna kuning keemasan. Beberapa jenis makanan yang umumnya dikonsumsi selama berbuka puasa, adalah bakwan, tempe, tahu, cireng, kroket, ubi, singkong, dan masih banyak lagi.

Namun, gorengan yang dimasak menggunakan banyak minyak bisa menghasilkan makanan dengan kandungan lemak tinggi.

Jika makanan yang digoreng merupakan produk berprotein tinggi, Sahabat DAAI juga berisiko menambah tingkat kolesterol. Apalagi, jika minyak yang digunakan untuk menggoreng tidak sering diganti oleh penjual, maka bahaya kesehatan yang mengintai bisa lebih banyak.

Secara terperinci, berikut adalah beberapa risiko kesehatan lain yang bisa menyerang tubuh jika terlalu sering makan gorengan saat berbuka puasa.

 

1. Risiko Penyakit Jantung

Serangan jantung bisa terjadi saat ada penyumbatan di arteri yang mencegah otot jantung menerima cukup darah.

Penyebab utama serangan jantung, adalah Coronary Artery Disease (CAD) yang disebabkan oleh penumpukan plak yang mengandung kolesterol di arteri yang mengalirkan darah ke jantung, sehingga menyebabkan penyumbatan.

Konsumsi gorengan secara berkala bisa meningkatkan penumpukan ini, serta bisa membuat Sahabat DAAI berisiko lebih besar terkena serangan jantung.

Sebuah penelitian menunjukkan, makan gorengan dapat meningkatkan risiko mengalami serangan jantung hingga 28%.

 

2. Menambah Asupan Lemak Jenuh

Secara umum, ada dua jenis lemak trans di dalam tubuh. Pertama, lemak trans alami dengan jumlah sedikit yang ada di dalam makanan, misalnya di dalam produk susu.

Kedua, lemak trans buatan dari lemak jenuh yang muncul akibat proses pengolahan makanan dengan suhu tinggi, seperti gorengan.

Proses tersebut, bisa mengubah struktur kimia lemak yang menyebabkan makanan lebih sulit dicerna. Akibatnya, ada banyak efek buruk yang bisa muncul akibat kandungan lemak trans.

Misalnya, meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes melitus tipe-2, bahkan sampai risiko obesitas.

 

3. Meningkatkan Kadar Kolesterol

Konsumsi gorengan berlebihan bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, khususnya low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.

Selain itu, lemak jenuh juga bisa menurunkan kadar kolesterol baik (high-density lipoprotein/HDL).

Peningkatan kadar kolesterol ini, bisa menyebabkan penyakit kolesterol tinggi yang bisa membentuk plak pada pembuluh darah arteri. Akibatnya, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, sampai serangan jantung.

 

4. Meningkatkan Risiko Obesitas

Sudah jadi rahasia umum kalau gorengan mengandung lebih banyak kalori, dibandingkan makanan yang diolah dengan cara lain.

Untuk itu, asupan kalori yang masuk ke tubuh akan semakin banyak, sehingga berat badan cenderung meningkat.

Selain itu, kandungan lemak trans pada gorengan juga bisa memengaruhi kinerja hormon pengatur nafsu makan dan penyimpan lemak. Inilah alasan kenapa banyak orang jarang bisa merasa kenyang, meskipun telah makan banyak gorengan.

 

5. Wajah Mudah Berjerawat

Siapa sangka, ternyata terlalu banyak makan gorengan bisa berpotensi membuat wajah jadi lebih mudah berjerawat.

Umumnya, jerawat bisa tumbuh saat tidak ada keseimbangan hormon atau bakteri baik dalam tubuh. Gorengan sendiri, bisa berpotensi mengganggu keseimbangan kadar bakteri baik dalam tubuh.

Jadi, kalau Sahabat DAAI makan gorengan setiap hari, maka wajah bisa berisiko lebih mudah ditumbuhi jerawat.

Kalau Sahabat DAAI mencari alternatif yang lebih sehat, Sahabat DAAI bisa memilih makanan yang dipanggang, direbus, dan dikukus.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: