Penulis: Grace Kolin

Semenjak kecil, Intan sudah mencintai kegiatan berkebun. Kini, pekebun yang tinggal di Depok, Jawa Barat ini memiliki dan mengelola kebunnya sendiri. Di kebunnya, Intan menanam berbagai jenis tanaman untuk konsumsi pribadi hingga meminimalisir hama. “Kalau kita menanam satu tanaman aja, biasanya hama itu lebih cepat menyerang,” kata Intan.

Tidak hanya itu, ia juga menerapkan sistem berkebun ramah lingkungan dengan mengolah sampah dapurnya menjadi kompos. Kompos yang ia buat ditujukan agar tanamannya bisa tumbuh lebih subur serta agar makanan yang ia makan tidak terbuang secara percuma.

Setiap harinya, ia meluangkan waktu selama satu menit untuk memisahkan sampah organiknya dan melakukan pengomposan. Baginya, mengompos itu tidak sulit untuk dilakukan. Ia pun membagikan langkah-langkah mengompos dengan sampah organik lewat program Bumiku Satu DAAI TV:

  1. Pertama sediakan sampah organik, dekomposter, bahan organik karbon, dan komposter gerabah.
  2. Masukkan bahan organik karbon di lapisan komposter gerabah yang paling bawah. Tujuannya untuk menyerap cairan yang biasanya keluar dari sampah organik.
  3. Kemudian, masukan sampah organik dan tutup dengan lapisan bahan organik karbon. Ulangi proses ini hingga sampah organik habis.
  4. Di lapisan bahan organik karbon yang paling atas, taburi dekomposter untuk mempercepat proses pengomposan dan mengurangi bau yang tidak sedap. Semprot lapisan paling atas dari bakal kompos dengan air untuk mengaktifkan dekomposter.
  5. Tutup komposter gerabah selama 3 – 6 minggu. Kompos pun siap dipanen dan digunakan.

“Alam itu sebetulnya tidak menghasilkan sampah, karena apapun yang dihasilkan alam, ketika kembali lagi, dia akan hancur dan menjadi makanan bagi kehidupan di tanah,” ucapnya.

Tidak hanya menyimpan manfaat luar biasa dari mengompos untuk dirinya sendiri, Intan juga membagikan ilmu yang ia peroleh kepada kaum ibu-ibu. Ia ingin agar kaum ibu-ibu bisa lebih memahami apa itu teknik mengompos. Ia juga berharap agar kaum ibu-ibu bisa lebih memanfaatkan sampah organik agar tidak ada yang sampah dapur yang terbuang sia-sia dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).