gambar talking sumber dari canva

Penulis : Akbar Fauzi

Editor : Grace Kolin

Masa kanak-kanak identik dengan rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi. Terkadang, rasa ingin tahu itu menggiring anak pada situasi yang kurang ideal dan bahkan cenderung berbahaya. Sehingga tidak jarang jika sebagian orang tua langsung sigap mengatakan “tidak” atau “jangan” pada anaknya. Beberapa orang tua menganggap kata “tidak” atau “jangan” bisa menjadi cara yang efektif dalam mendisiplinkan anak. Namun, ibarat dua sisi koin, kata larangan seperti ini dapat menimbulkan dampak negatif tehadap tumbuh kembang anak jika terlalu sering diucapkan. Lalu, apa saja dampak tersebut? Dilansir dari yoursay.suara.com, mari kita simak penjelasannya!

1. Menghambat keberanian anak

Terlalu sering mengatakan larangan pada anak dapat membatasi perkembangan anak baik secara emosional, fisik, dan mental. Tidak hanya itu, keberanian anak untuk melakukan hal-hal yang sifatnya inisiatif dan spontan juga jadi terhambat.

2. Menghambat inisatif dan kreativitas anak

Melarang anak melakukan hal-hal yang ingin ia eksplor ternyata bisa menghambat inisiatif dan kreativitas anak. Menurut psikolog anak, terlalu sering berkata tidak dan jangan akan menutup inisiatif dan daya kreatif anak. Jika hal ini terus berulang, maka anak bisa menjadi pasif dan tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukannya jika tidak diarahkan oleh orang lain.

3. Membuat anak tidak percaya diri

Keberanian yang kurang dan rasa takut dalam mencoba mempelajari hal-hal baru bisa timbul akibat anak terlalu sering dilarang. Anak juga jadi tidak percaya diri dalam melakukan segala sesuatunya sendiri.

4. Membuat anak kebingungan

Terlalu sering mengatakan “tidak” dan “jangan” pada anak juga bisa membuatnya kebingungan. Ini dikarenakan, anak belum begitu paham alasan di balik ia tidak boleh melakukan sesuatu atau berhati-hati terhadap sesuatu. Akibatnya, ia pun jadi bingung dan takut untuk mengeksplorasi dunianya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Itulah beberapa dampak jika terlalu sering mengatakan “tidak” dan “jangan” pada anak. Orang tua bisa menggunakan kata atau kalimat alternatif yang lebih baik dari kata “tidak” dan “jangan”. Misalnya, saat anak ingin memegang mainan yang sedikit tajam. Orang tua bisa mengatakan “hati-hati ya, ini tajam nanti bisa terluka” sembari menunjukan atau memberitahu caranya, sehingga anak bisa paham bahwa akan terjadi sesuatu jika ia memegangnya.